FDLW | Chapter 0.1b
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
Noah telat. Telat satu jam.
Nasib sial seakan menghantui Noah saat itu. Dimulai dengan airnya yang entah kenapa hari it berpikir untuk berganti peran -panas jadi dingin, dan dingin jadi panas, jas kerjanya yang belum di setrika, dasinya yang entah kemana dan bagaimana, sampai sepatu yang kotornya seperti tidak dicuci bertahun-tahun.
Entah bagaimana nasib karirnya nanti. Mengingat sekarang ia telah menghabiskan waktu satu jam hanya untuk bersiap. Setelah menyelesaikan semuanya, Noah langsung mengunci pintu rumahnya dan segera berlari ke halte bus terdekat, namun ia segera menepisnya, dan memilih memanggil taksi yang lewat dan memberikan alamat kantornya sebelum akhirnya Noah berteriak agar sang sopir berkendara dengan cepat.
Sang sopir yang sudah terbiasa hanya menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya menuruti permintaan Noah. Entah karena sopirnya sudah terbiasa atau memang ia seorang veteran, taksi yang Noah tumpangi dapat dengan mulus melewati semua mobil di depannya, padahal keaadaan saat itu macet. Noah tidak memperdulikan hal ini dan hanya terus melirik ke arah jam tangannya. Berharap cemas agar segera sampai ke kantor.
Sesampainya di tempat tujuan, Noah langsung ngacir setelah memberi ongkosnya kepada sang supir. Ia dengan terburu-baru masuk ke dalam kantor dan segera menuju lift. Namun sayangnya di sana ada banyak orang yang berkumpul sambil menunggu lift turun. Melihat ini, Noah memperkirakan ia tidak akan kebagian tempat dan langsung menuju tangga darurat.
Walaupun tempatnya berada di lantai 12, ia tetap nekat menaiki tangga itu.Sesaat setelah ia sampai, ia disambut oleh Ketua Divisinya yang tengah menyilangkan lengan di depan dada sambil menatap ke arah Noah dengan pandangan datar.
"Bagus sekali, Tuan Noah. Telat 2 jam 15 menit. Ada kata-kata terakhir sebelum kau ku tendang dari sini?" Ucapan sinis sang Ketua. Wajah Ketuanya yang biasanya cerah, hari ini seakan di terpa angin topan. Alisnya tertekuk, matanya tajam, dan bibirnya yang melengkung jauh kebawah membuatnya terlihat seperti malaikan pencabut nyawa miliknya. Noah hanya bisa menelan ludah dan bercicit, "Uh,... bisa beri aku satu kali kesempatan?"
Sang Ketua awalnya ingin menolak, namun dirinya teringat sesuatu. Melihat itu Noah merasa masih ada harapan untuknya dan dengan segenap hati mengeluarkan pandangan memelas. Sang ketua mendengus melihatnya.
"Baiklah, kali ini kumaafkan. Tapi tentu saja bukan tanpa hukuman. Ikuti aku," ucap sang ketua lalu berbalik pergi. Noah menghembuskan nafas lega lalu segera menyusul Ketuanya menuju lift. Setelah mereka berdua masuk, sang ketua langsung menekan nomor lantai teratas. Noah yang melihat dengan jelas hal tersebut langsung berkeringat dingin. Jangan-jangan hal ini akan dilaporkan ke atasan, pikirnya menerka-nerka.
Sesaat kemudian mereka sampai ke lantai teratas. Jantung Noah berdegup kencang dan keringat mulai membasahi kemejenya. Dia baru saja ingat bahwa CEO dari perusahaannya sedang berkunjung ke sini. Semoga saja sang ketua tidak melaporkannya langsung ke CEO, harapnya. Tanpa Noah ketahui, keterlambatannya akan menjadi pengubah hidupnya selamanya.
"Bagus sekali, Tuan Noah. Telat 2 jam 15 menit. Ada kata-kata terakhir sebelum kau ku tendang dari sini?" Ucapan sinis sang Ketua. Wajah Ketuanya yang biasanya cerah, hari ini seakan di terpa angin topan. Alisnya tertekuk, matanya tajam, dan bibirnya yang melengkung jauh kebawah membuatnya terlihat seperti malaikan pencabut nyawa miliknya. Noah hanya bisa menelan ludah dan bercicit, "Uh,... bisa beri aku satu kali kesempatan?"
Sang Ketua awalnya ingin menolak, namun dirinya teringat sesuatu. Melihat itu Noah merasa masih ada harapan untuknya dan dengan segenap hati mengeluarkan pandangan memelas. Sang ketua mendengus melihatnya.
"Baiklah, kali ini kumaafkan. Tapi tentu saja bukan tanpa hukuman. Ikuti aku," ucap sang ketua lalu berbalik pergi. Noah menghembuskan nafas lega lalu segera menyusul Ketuanya menuju lift. Setelah mereka berdua masuk, sang ketua langsung menekan nomor lantai teratas. Noah yang melihat dengan jelas hal tersebut langsung berkeringat dingin. Jangan-jangan hal ini akan dilaporkan ke atasan, pikirnya menerka-nerka.
Sesaat kemudian mereka sampai ke lantai teratas. Jantung Noah berdegup kencang dan keringat mulai membasahi kemejenya. Dia baru saja ingat bahwa CEO dari perusahaannya sedang berkunjung ke sini. Semoga saja sang ketua tidak melaporkannya langsung ke CEO, harapnya. Tanpa Noah ketahui, keterlambatannya akan menjadi pengubah hidupnya selamanya.
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------

Komentar
Posting Komentar